Stok Minyak Global Kritis, Kilang China Tiarap, Harga Bisa Tembus 150 Dolar

Ekonomi & Bisnis

JAKARTA, KOMPAS.com – Stok minyak global dikabarkan berada dalam kondisi kritis setelah produksi kilang-kilang utama China jatuh ke level terendah dalam satu dekade terakhir. Kondisi ini memperparah krisis energi global yang sudah tertekan akibat konflik Iran-AS yang terus memanas dan mengganggu stabilitas pasokan dari kawasan Timur Tengah.

Menurut data terbaru yang dirilis oleh lembaga energi internasional pada Jumat (22/5/2026), produksi kilang China turun drastis sebagai dampak dari pembatasan impor minyak mentah yang disebabkan oleh ketidakstabilan jalur pengiriman di Selat Hormuz. China, yang merupakan importir minyak mentah terbesar di dunia, sangat bergantung pada pasokan dari Timur Tengah yang kini terhambat oleh konflik bersenjata.

Para analis memperingatkan bahwa cadangan minyak global diperkirakan hanya akan mencukupi untuk tiga bulan ke depan jika situasi tidak segera membaik. Harga minyak mentah dunia telah melonjak ke level di atas 140 dolar AS per barel, level tertinggi sejak krisis minyak tahun 2008 dan memberikan tekanan inflasi yang sangat besar bagi negara-negara pengimpor minyak termasuk Indonesia.

Baca juga: Dampak Lonjakan Harga Minyak terhadap Ekonomi Indonesia

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dalam konferensi pers di Jakarta, mengakui bahwa pemerintah Indonesia sangat mewaspadai perkembangan harga minyak global. Pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif termasuk optimalisasi APBN sebagai bantalan fiskal dan penguatan kerja sama energi dengan negara-negara mitra.

“Kami terus memonitor perkembangan harga minyak dunia dan dampaknya terhadap perekonomian nasional. Presiden Prabowo telah menginstruksikan jajaran ekonomi untuk menyiapkan langkah-langkah mitigasi yang diperlukan,” ujar Airlangga.

Ia menambahkan bahwa pengalaman Indonesia dalam menghadapi krisis minyak tahun 2005 dan 2008 menjadi bekal berharga bagi pemerintah saat ini. Beberapa langkah yang dipertimbangkan antara lain penguatan cadangan energi nasional, diversifikasi sumber energi, serta optimalisasi penggunaan energi terbarukan.

Sementara itu, para pengamat ekonomi memperkirakan bahwa Indonesia akan mengalami peningkatan inflasi yang signifikan jika harga minyak bertahan di atas 120 dolar AS per barel dalam jangka panjang. Sektor transportasi dan industri manufaktur diprediksi akan menjadi sektor yang paling terdampak.

Baca juga: Prabowo Kumpulkan Tokoh Ekonomi Bahas Lonjakan Harga Minyak

Krisis energi global ini juga diprediksi akan mempercepat transisi ke energi terbarukan di berbagai negara. Indonesia sendiri telah menargetkan pencapaian net zero emission pada tahun 2060 dan krisis saat ini dapat menjadi momentum untuk mempercepat pengembangan energi bersih.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak panik menghadapi situasi ini. Pemerintah berjanji akan terus mengupdate perkembangan terkait kebijakan energi dan ekonomi yang diambil untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *