TEHERAN, KOMPAS.com – Sebuah laporan intelijen Amerika Serikat yang bocor ke publik telah menggegerkan dunia setelah mengungkapkan bahwa Rusia dan China secara diam-diam memberikan bantuan signifikan kepada Iran dalam mempercepat pemulihan kemampuan militernya pascaserangan besar-besaran AS-Israel pada Februari lalu.
Menurut laporan yang dikutip dari sumber pejabat AS dan dilaporkan oleh berbagai media internasional pada Jumat (22/5/2026), Iran telah melampaui semua tenggat waktu yang ditetapkan oleh komunitas intelijen untuk rekonstruksi kemampuan militernya. Kemampuan Iran yang pulih dengan cepat ini dinilai sangat mengkhawatirkan karena dapat digunakan untuk mengancam jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, yang merupakan titik strategis pasokan energi global.
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa Rusia diduga kuat memberikan bantuan kepada Iran melalui transfer data intelijen dan citra satelit terkait pergerakan militer AS dan sekutunya di kawasan Timur Tengah. Bantuan intelijen ini memungkinkan Iran untuk menghindari serangan dan merelokasi aset-aset militernya secara lebih efektif.
Sementara itu, China disebut memberikan dukungan di bidang teknologi, ekonomi, dan komponen militer yang membantu mempercepat pemulihan kemampuan pertahanan Iran. Dukungan China ini mencakup pengiriman komponen drone, sistem radar, dan teknologi komunikasi yang memungkinkan Iran membangun kembali infrastruktur militernya yang sempat hancur akibat serangan AS-Israel pada Februari 2026.
Meskipun sempat mengalami kerusakan parah akibat serangan udara AS dan Israel, Iran disebut masih mempertahankan sebagian besar kemampuan militernya. Ribuan drone Iran masih tersedia, dengan perkiraan 50 persen dari total kemampuan sebelum perang masih berfungsi. Selain itu, sebagian besar rudal jelajah pertahanan pantai Iran dilaporkan masih utuh dan siap digunakan.
Baca juga: AS Ancam Serang Iran jika Negosiasi Damai Gagal
Kemampuan militer Iran yang masih signifikan ini menjadi faktor kunci dalam ketegangan yang terus berlanjut di kawasan. Iran diyakini masih mampu mengancam jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, yang jika terganggu akan berdampak langsung pada harga minyak global dan stabilitas ekonomi dunia.
Di sisi lain, hubungan antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan sedang berada dalam titik terendah. Kedua pemimpin disebut berada di posisi yang berseberangan terkait strategi menghadapi Iran. Netanyahu dilaporkan sangat meragukan efektivitas jalur negosiasi dengan Teheran dan mendesak agar opsi serangan fisik dilanjutkan. Sementara Trump lebih memprioritaskan penyelesaian diplomatik demi meredam ambisi nuklir Iran.
Menurut laporan media Israel, Trump dan Netanyahu terlibat dalam adu argumen sengit melalui sambungan telepon yang digambarkan sangat “dramatis” pada Selasa (19/5/2026) malam. Pembicaraan tersebut berfokus pada masa depan operasi militer melawan Iran yang akan menentukan peta politik kawasan Timur Tengah dalam beberapa tahun ke depan.
Pekan ini Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengunjungi India dalam rangkaian diplomasi regional, sementara Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Jenderal Syed Asim Munir telah dua kali mengunjungi Teheran dalam upaya mediasi. Situasi diplomatik yang rumit ini menunjukkan betapa kompleksnya krisis Iran yang melibatkan banyak pemain global dengan kepentingan yang saling bertabrakan.
Baca juga: Pakistan Mediasi Perdamaian AS-Iran di Tengah Ketegangan
Masyarakat internasional terus memantau perkembangan situasi dengan waspada. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan akan mengadakan sidang darurat dalam waktu dekat untuk membahas eskalasi terbaru dan potensi keterlibatan Rusia dan China dalam konflik Iran.
