TEHERAN, KOMPAS.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk meluncurkan serangan militer baru terhadap Iran jika negosiasi damai yang tengah berlangsung tidak membuahkan hasil dalam waktu dekat. Ancaman ini muncul di tengah upaya diplomasi intensif yang dilakukan oleh Pakistan sebagai mediator.
Menurut laporan Axios yang dikutip oleh berbagai media internasional pada Jumat (22/5/2026), Trump dilaporkan semakin tidak sabar dengan lambatnya kemajuan negosiasi dan telah memerintahkan tim keamanan nasionalnya untuk menyiapkan opsi-opsi militer jika diplomat tidak mencapai terobosan. Peringatan ini disampaikan di saat yang bersamaan dengan meningkatnya aktivitas militer AS di kawasan Teluk Persia.
Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Syed Asim Munir, tiba di Teheran pada Sabtu (23/5/2026) untuk melakukan kunjungan diplomatik keduanya dalam kurun waktu kurang dari seminggu. Kedatangan Jenderal Munir disambut langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, di bandara internasional Teheran. Pertemuan kedua tokoh ini berlangsung selama lebih dari tiga jam dan membahas berbagai opsi untuk mencairkan kebuntuan negosiasi.
Dalam pertemuan tersebut, Iran kembali menegaskan posisi fundamentalnya dan memperingatkan akan ada konsekuensi yang menghancurkan jika AS secara gegabah memulai kembali konflik militer. Negosiator utama Iran, yang namanya dirahasiakan karena alasan keamanan, menyampaikan pesan tegas bahwa setiap agresi militer AS akan mendapatkan respons yang setimpal dan akan membawa konsekuensi yang pahit bagi stabilitas kawasan Timur Tengah.
Konflik Iran-AS yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026 telah menimbulkan dampak kemanusiaan dan ekonomi yang sangat serius. Data yang dihimpun dari berbagai sumber menunjukkan bahwa lebih dari 3.500 orang di Iran telah tewas akibat serangan udara koalisi AS-Israel, sementara 26.500 lainnya mengalami luka-luka. Di pihak koalisi yang dipimpin AS, sebanyak 15 tentara Amerika dan 22 tentara Israel dilaporkan tewas, sementara 538 personel militer AS dan 779 personel Israel mengalami luka-luka. Konflik ini juga telah merenggut hampir 3.000 jiwa di Lebanon dan menyebabkan krisis pengungsi besar-besaran di negara-negara tetangga.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang sedang berada di Kolkata, India, dalam rangkaian kunjungan diplomatik regional, memberikan sinyal hati-hati bahwa ada sedikit kemajuan dalam pembicaraan damai. Rubio mengisyaratkan bahwa mediasi yang dilakukan oleh Pakistan menunjukkan perkembangan positif meskipun masih banyak poin perbedaan fundamental yang perlu dijembatani. Ia menekankan bahwa AS tetap membuka pintu untuk solusi diplomatik, namun opsi militer tidak pernah sepenuhnya dikesampingkan.
Krisis Selat Hormuz masih menjadi titik kritis yang belum terselesaikan. Iran sebelumnya telah mengizinkan beberapa kapal tanker minyak untuk melintas setelah kesepakatan gencatan senjata pada 8 April 2026, namun belakangan kembali menerapkan pembatasan ketat yang memicu lonjakan harga minyak dunia. Selat Hormuz merupakan jalur transportasi minyak dunia yang sangat strategis, di mana sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati perairan ini setiap harinya. Ketidakstabilan di kawasan yang terus berlanjut telah menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak dan memicu kekhawatiran resesi global.
Baca juga: Pakistan Kembali Mediasi Perdamaian AS-Iran
Masyarakat internasional terus menekan kedua belah pihak untuk mencapai kesepakatan damai yang berkelanjutan. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan akan mengadakan sidang darurat minggu depan untuk membahas eskalasi terbaru di Timur Tengah dan mencari jalan keluar bagi konflik yang telah berlangsung selama hampir tiga bulan ini.
